Surabaya. Spektrum-nasional.com || Forum pemegang sabuk hitam Pembinaan Mental Kyukushinkai (PMK) Karate-do Indonesia menunjukkan sikap kebersatuan, meski ditengah guyuran hujan lebat para pemegang sabuk hitam semangat menggelar latihan di kompleks Tugu Pahlawan, Minggu (2/4).
Para pemegang sabuk hitam yang menggelar latihan di kawasan bersejarah ini, diduga sebagai korban pendzholiman Tjandra Sridjaja yang diduga mengemplang uang arisan perguruan senilai Rp11 Milyar.
Mereka tampaknya menunjukkan jiwa loyalitas yang kuat dengan dengan menyatu bersama pahlawan 10 November 1945 yang gugur dalam memerangi sikap dzholim yang diduga dilakukan oleh sosok yang sebelumnya di segani dan hormati.
Sebelum menggelar latihan, para senior pemegang sabuk hitam melakukan doa bersama didepan monumen pahlawan tanpa nama. Usai doa bersama, Hujan yang tadinya lebat sedikit mereda, lalu kembali ke tengah lapangan, dan kemudian memulai latihan ditengah hujan.
Rudi Hartono, Ketua forum sabuk hitam kepada para wartawan mengatakan ini merupakan latihan yang pertama kali digelar di Tugu Pahlawan, sebelumnya direncanakan di atas kapal namun jumlah peserta latihan cukup banyak.
“Jumlah yang hadir hari ini, sekitar 50 orang lebih, dan latihan bassic sesuai setiap kali latihan setelah itu latihan gerakan dan latihan komite, yang hari ini khusus sabuk hitam, peserta yang hadir dari Surabaya saja dan ada beberapa dari luar kota Surabaya”Kata Rudi Hartono.
Sementara itu, Bambang Haryo pemegang sabuk hitam menambahkan, sebetulnya jumlah pemegang sabuk hitam dua kali lipat dari yang ada sekarang sekitar 60%.
“Disini biasanya kami berlatih bersama guna menstabilkan kondisi fisik atau menstandarisasikan fisik PMK. Ini rutin dilakukan, dan terlihat kebersatuan anggota PMK terutama sabuk hitam, para pelatih di seluruh jawa timur. Ini masih kompak mendukung kaicho liliana sebagai pimpinan perguruan, sekaligus sehan rudi mengetes mengundang”Kata pemilik sapaan akrab BHS, di tugu Pahlawan.
Anggota DPR-RI periode 2014-2019 ini mengungkapkan, meski dalam keadaan hujan lebat, ternyata loyalitasnya luar biasa, kita berlatih dengan spirit yang tak tergoyahkan yang luar biasa, sehingga terlihat bahwa kita masih kompak, kita masih bersatu semuanya mendukung Kaicho Liliana.
Disinggung wartawan soal perkara uang arisan sebesar Rp11 Milyar yang diduga digelapkan oleh kelompok Tjandra Sridjaja, dan kemudian kelompoknya melalui Erick Sastrodikoro melaporkan para pimpinan perguruan, lantaran dituduh melakukan pencemaran.
BHS mengatakan, laporan oleh kelompok Tjandra Sridjaja itu tidak benar, yang hadir disini pemegang sabuk hitam, yang merintis arisan itu adalah Rudi Hartono Ketua Forum Pemegang Sabuk Hitam, sampai terkumpul Milyaran, kemudian di tahun 2019 terjadi satu masalah.
“Sebenarnya, kita ini adalah korban. Sihan Wibisono yang juga membela kaicho Liliana, pimpinan perguruan kami sebagai korban, dan ini sudah di pahami oleh kepolisian tentang perkara yang sedang dihadapi”Kata BHS.
Menurut BHS, dalam perkara itu, adalah bentuk kriminalisasi yang didorong dalam mendapatkan keuntungan yang diduga dilakukan Tjandra Sridjaja .
“Saya sahabat beliau (Tjandra Sridjaja), beliau sahabat saya. Tapi saya tidak rela pimpinan perguruan kami, putri dari Nardi Tenderwanto di kriminalisasi”Kata BHS.
BHS menyampaikan, PMK Karate do-Indonesia ini seharusnya bisa bersatu, dan yang melakukan pembelotan mungkin tidak lebih dari 1%. Tutup BHS. (SN/Tim**
UKAW Kupang Siapkan Turnamen Voli di Auditorium Bahtera Wacana, Rektor Gotlief Dorong Kampus Jadi Sport University