Wajak Kurikulum Indonesia
Oleh: Ibnu Rusid.
(Mahasiswa Pascasarjana Jurusan Teknologi Pendidikan)
Kata kurikulum bukanlah kata yang tabu untuk kita semua, karena apapun jenjang dan jenis pendidikan tetulah memiliki kurikulum sebagai dasar pengembangan proses pembelajaran. Dengan kurikulum proses pembelajaran lebih terarah dan terpadu. Peserta didik dan pendidik berada dalam satu kesatuan yang dapat di satukan dalam kata Kurikulum itu sendiri.
Perkembangan kurikulum di Indonesia sangat unik, saking uniknya menimbulkan anggapan bahwa " Setiap terjadi pergantian menteri pendidikan tentu akan melahirkan kurikulum yang baru". Hal ini tidak sepenuhnya salah jika ditinjau dari aspek penyelenggaraan pendidikan.
Dimana pemerataan implementasi kurikulum sebelumnya belum dilakukan secara maksimal namun harus di hadapkan pada kurikulum yang baru di canangkan saat ini. Tentu hal ini menjadi pro dan kontra di tinggat Pendidik. Hal ini dikarenakan proses dinamika pembelajaran yang diperoleh tiap-tiap pendidik berbeda sehingga membentuk pandangan tentang kurikulum tidaklah sama dan sepaham.
Merujuk pada buku karangan Dr. Drs. Ahmad Noor Fatirul, ST,. M.Pd yang berjudul Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum (Edisi ke 3). Ia mengemukakan bahwa kurikulum harus dikembangkan berdasarkan pendidikan sesuai tuntutan zaman.
Dimana perkembangan kurikulum merupakan proses mulai dari perencanaan dan penyusunan kurikulum sampai kegiatan yang dilakukan agar kurikulum dapat menjadi acuan yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional yang dilakukan oleh pengembang kurikulum.
Dengan demikian perlu kita pahami bahwa perubahan kurikulum yang terjadi bukan terletak pada gengsi bahkan ego dari pemangku kepentingan, akan tetapi lebih kepada kebutuhan dan mengikuti perkembangan zaman. Pada tahapan ini perlu kita sadari juga bahwa dalam mengimplementasikan kurikulum dari setiap jenjang bahkan merujuk pada setiap daerah dalam satuan pendidikan sangatlah berbeda.
Jika tinjau dari segi perkembangan zaman dalam hal ini adalah teknologi. Pengimplementasian kurikulum menjadi momok yang mengerikan ketika kita hadapkan pada realitas pendidikan Indonesia.
Dimana ada celah yang cukup lebar antara jenjang pendidikan perkotaan dan perkampungan, sederhananya kebutuhan pendidikan di pusat kota berbeda dengan kebutuhan pendidikan di daerah terpencil.
Namun dengan adanya troposan baru yang lebih menekankan pada kata "Merdeka", maka sedikit banyak merapatkan celah yang sebelumnya terjadi, dimana kurikulum yang baru ini menjadi harapan dan ruang bebas dari pendidikan untuk melaksanakan proses pendidikan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Tidak terikat pada aturan yang kaku. Kurikulum "Merdeka Belajar" memberikan keleluasaan setiap daerah untuk memenuhi kebutuhan pendidikan. Dengan begitu dapat terjadinya modifikasi kurikulum pada tiap-tiap daerah sesuai dengan keadaan sosial budaya masyarakat setempat.
Pada tahapan ini tentu dapat dikatakan perencanaan kurikulum telah menemukan titik terang dari segelumit problem yang selama ini menjadi penghambat majunya pendidikan di Indonesia. Namun, perlu adanya perbaikan dan evaluasi secara berkala sehingga dapat dilakukan perbaikan demi kemajuan yang lebih baik.
Dalam suatu kesempatan mengisi forum United Nations Drugs and Crime (UNODC) di Thammasat University, Bangkok tahun 2019, seorang peserta bertanya bagaimana konsep Indonesia dapat mempersatukan suku, etnis, bahasa, agama dan golongan yang begitu plura
TIMOR LESTE- Spektrum-nasional.com || Dari semua indera yang dimiliki oleh manusia, indera penglihatan atau mata tampaknya adalah indera yang paling berkembang.