Jakarta,- Pergerakan mata uang Asia pada perdagangan pagi ini, Senin (2/3/2026) kompak melemah atau tertekan dalam menghadapi dolar Amerika Serikat (AS). Seiring pasar merespon terkait meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah pasca serangan AS dan Israel ke Iran pada sabtu (28/2/2026) akhir pekan lalu.
Merujuk data Refinitiv, per pukul 09.20 WIB, sebanyak sebelas mata uang Asia yang dipantau terpantau melemah terhadap greenback.
Pelemahan terdalam terjadi pada nilai tukar won Korea Selatan yang terdepresiasi hingga 0,82% ke level KRW 1.450,99/US$. Baht Thailand menyusul dengan pelemahan 0,68% ke posisi THB 31,20/US$.
Adapun, mata uang Garuda juga terpantau berada di zona merah dengan pelemahan sebesar 0,45% ke level Rp16.835/US$. Pelemahan rupiah menjadi yang terdalam ketiga diantara mata uang Asia lainnya pada pagi ini.
Di bawahnya menyusul, peso Filipina yang turut terkoreksi tajam sebesar 0,41$ ke posisi PHP 57,878/US$. Sementara, negara tetangga kita Malaysia turut mengalami pelemahan nilai tukarnya dengan ringgit terkoreksi 0,39% ke level MYR 3,903/US$.
Tekanan juga terjadi pada sejumlah mata uang Asia lainnya. Dong Vietnam dan dolar Singapura sama-sama turun 0,24% masing-masing ke level VND 26.102/US$ dan SGD 1,2675/US$.
Yen Jepang melemah 0,23% ke JPY 156,41/US$, rupee India turun 0,21% ke INR 91,24/US$, dan yuan China terkoreksi 0,19% ke CNY 6,87/US$.
Sementara itu, dolar Taiwan menjadi mata uang dengan pelemahan paling tipis setelah turun 0,16% ke level TWD31,425/US$.
Arah pergerakan tersebut sejalan dengan menguatnya indeks dolar AS atau DXY. Pada saat yang sama, DXY tercatat naik 0,27% ke level 97,869.
Penguatan indeks dolar ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset berdenominasi dolar AS, yang kemudian memberi tekanan pada mayoritas mata uang lain, termasuk mata uang Asia.
Dari faktor eksternal, penguatan dolar AS terjadi di tengah meningkatnya permintaan aset safe haven setelah serangan AS dan Israel ke Iran pada akhir pekan. Konflik tersebut memicu kekhawatiran pasar global karena berpotensi memperluas ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah, termasuk mengganggu lalu lintas maritim di kawasan Teluk yang kaya minyak. (**.CNBC Indonesia
Pergerakan mata uang Asia pada perdagangan pagi ini, Senin (2/3/2026) kompak melemah atau tertekan dalam menghadapi dolar Amerika Serikat (AS).
OR Arbastra BRIN Ungkap Peran Perdagangan Rempah dalam Pembentukan Identitas Kota Padang
Bantuan PKH Ibu Lansia Di Sukabumi Dipotong